11 Tren Komputasi Prediksi Fujitsu
TEMPO.CO , Jakarta – Teknologi bergerak makin cepat, mendorong munculnya tren yang akan mengubah berbagai aspek kehidupan manusia. Salah satu tren yang diprediksi Fujitsu Indonesia akan terjadi adalah kemampuan komputasi dalam memahami konteks pada servis atau konten secara langsung, tanpa diminta si pengguna.
“Contohnya sederhananya adalah Microsoft Word yang sebelumnya hanya bisa mengoreksi kata per kata, sekarang sudah bisa melakukan koreksi pada konteks kalimat,” kata Ahmad S. Sofwan, Presiden Direktur Fujitsu Indonesia di Jakarta, 14 Februari 2012.
Ia juga mengatakan kemampuan perangkat memahami konteks ini akan makin membantu penggunanya berinteraksi dengan lingkungan dan komunitasnya.
“Nantinya perangkat teknologi lebih mengenali pemiliknya secara lebih mendalam, dibanding pemilik mengenal perangkatnya,” ujarnya menambahkan.
Kesimpulan ini diambil setelah Fujitsu mendapat masukan dari Chief Technology Officer (CTO) perusahaannya di tingkat global, mengenai tren yang akan yang diperkirakan akan mengubah dunia teknologi pada 2012.
Selain kemampuan komputasi mengenali konteks, berikut 11 tren lainnya yang diprediksi akan terjadi:
1. Real-time insight
Dunia fisik dan dunia digital akan semakin menyatu dan tersinkronisasi, sehingga mampu mengantarkan informasi berbasis data berkecepatan tinggi.
Akibatnya, tidak aneh bila kemudian muncul sistem yang tidak hanya mampu memproses transaksi, namun juga mengolah data yang ‘dirasakannya’ dan bereaksi terhadap hal tersebut. “Pengambilan keputusan bisa dilakukan oleh komputer, bukan lagi manusia,” ujar Ahmad.
2. Bisnis tanpa batas
Layanan cloud memungkinkan pelaku bisnis untuk membangun, melakukan sendiri, dan mengkonfigurasi teknologi komputasi yang diinginkannya, tanpa harus melakukan investasi bernilai besar.
Akibatnya, batasan tradisional yang menghambat bisnis seperti pasar, lokasi, organisasi, bahasa, atau teknologi akan lenyap. “Orang akan makin mempertimbangkan cloud computing sebelum membangun sendiri servernya,” ujar Ahmad.
3. Informasi lebih penting dibanding teknologi.
Sebelumnya dalam teknologi informasi, bagian ‘teknologi’ lebih dipentingkan dibanding informasi.
Namun dengan besarnya potensi yang bisa diolah dari jejak digital, atau informasi yang ditinggalkan pengguna TI dalam setiap aktivitasnya, membuat informasi akan semakin dihargai.
Resiko bila hal ini tidak dilakukan adalah kompetitor akan memahami konsumen suatu perusahaan jauh lebih dalam dibanding perusahaan itu sendiri.
“Bagaimana memanfaatkan informasi, akan menjadi hal yang kompetitif,’ ujar Ahmad.
4. Semua ‘Benda’ Akan Terkoneksi
Saat ini terdapat empat miliar piranti yang terhubung ke internet, dan jumlahnya akan bertambah menjadi 15 miliar pada 2015 dan 20 miliar di 2020.
Ini didorong oleh semakin murahnya biaya prosesor dan pemancar nirabel. Akibatnya, hidup manusia akan semakin tergantung dari aliran informasi yang berasal dari perangkat ini.
“Ini bisa sangat bermanfaat, namun bisa juga jadi berbahaya karena manusia menjadi sangat tergantung padanya,” katanya.
5. Lokasi Perdagangan
Sekarang faktor lokasi tidak lagi menjadi halangan dalam membuka bisnis. Contohnya saja pelaku bisnis yang memanfaatkan Facebook untuk memasarkan produknya.
6. Organisasi lebih melihat ‘keluar’
Perubahan yang terjadi saat ini memaksa organisasi untuk keluar dari batas tradisionalnya.
“Dulu dalam mengurus organisasi, yang dipertimbangkan hanya masukan dari dalam organisasi. Namun ke depannya organisasi akan lebih melihat keluar,’ ujar Ahmad.
Misalnya saja organisasi saat ini lebih terintegrasi dengan media sosial, cloud, dan tidak lagi terikat pada satu teknologi tertentu
7. Perusahaan menawarkan semakin banyak pilihan
Sebelumnya perusahaan cenderung menyediakan satu solusi untuk memenuhi beragam kebutuhan pelanggan. Hal ini ditempuh demi menekan biaya yang timbul. Ke depannya, pendekatan ini diprediksi akan mulai ditinggalkan.
8. Social working
Organisasi saat ini mulai bereksperimen dengan memasuki media sosial, namun tantangannya adalah organisasi tersebut dihadapkan dalam tatanan nilai yang berbeda dari nilai tradisional.
Misalnya, pelaku bisnis ingin segala hal yang terjadi dalam bisnisnya terjadi secara rutin dan terprediksi. Padahal, yang terjadi di media sosial adalah sebaliknya.
9. Kekuatan kekuatan ‘crowding out’
Web tidak hanya menyediakan akses informasi, namun juga dapat menghubungkan perusahaan dengan sumber daya manusia yang potensial untuk direkrut sebagai tenaga kerja.
“Contohnya adalah situs LinkdIn yang memiliki informasi orang-orang yang memiliki kapasitas spesifik,” ujarnya. Pendekatan ini tidak akan menggantikan sistem rekrutmen tradisional, namun akan menjadi salah satu alternatif dalam menjaring sumber daya manusia.
10. Organisasi mengubah diri
Perkembangan di bidang teknologi seperti cloud computing, big data, mobile dan media sosial akan membawa perubahan yang bersifat disruptif bagi perusahaan.
Akses teknologi tidak lagi membutuhkan biaya sebesar sebelumnya, dan salah satu kemungkinannya adalah hilangnya Capex dan depresiasi dari neraca keaungan.
11. Mobilitas semakin alamiah
Saat ini keberadaan teknologi bergerak (mobile) menjadi semakin alamiah, hingga nantinya istilah mobile tidak lagi relevan. “Karena sudah menjadi sebuah kelaziman,” ujar Ahmad.
RATNANING ASIH







